Kontroversi Seputar Historiografi Syiah Itsna Asyariah (Syiah Dua Belas)

Muhammad Rofiq

Secara etimologis Syiah adalah kata yang diderivasi dari syâ’a–yasyî’u-syuyû’an yang berarti tersebar (Fuad, 2007: 413). Makna asal kata Syiah sendiri sebenarnya adalah al-firqah (kelompok manusia), namun kemudian beralih menjadi “pengikut dan penolong seseorang (atbâ’u rajulin wa anshâruh)” (Ibnu Manzhur, tth: 2377). Kata Syiah memiliki kedekatan makna dengan al-tasyayyu’ dan al-musyâya’ah yang semuanya berkisar pada makna mengikuti (al-mutâba’ah), menolong (al-munâsharah) dan menyetujui pandangan seseorang (al-muwâfaqah bi al-ra’y). Kata Syiah kemudian menjadi istilah teknis (technical term) yang disepakati untuk menunjukkan orang-orang yang loyal kepada Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait (keluarga) nya (al-Qaffariy, tth: 31).

 

Kata “Syiah” di dalam al-Quran terulang sebanyak dua belas kali. Berdasarkan induksi yang dilakukan oleh Ibnu Jauzi dalam karyanya Nuzhatu al-A’yun wa al-Nawâzhir terhadap dua belas ayat tersebut, dapat diklasifikasikan empat orientasi makna dari kata Syiah dalam al-Quran. Pertama, kelompok atau aliran (al-firaq). Makna ini terdapat dalam al-Quran al-An’am: 159, al-Hijr: 1, al-Qashash: 4 dan al-Rum: 69. Kedua, keluarga dan keturunan (al-ahl wa al-nasb), sebagaimana tertera dalam surat al-Qashsash: 15. Ketiga, penganut suatu ajaran agama (ahl al-millah), sebagaimana termuat dalam surat Maryam: 69, al-Qamar: 51, Saba: 54 dan al-Shafat: 83. Keempat, aliran yang bermacam-macam (al-ahwâ al-mukhtalifah), seperti dalam firman Allah surat al-An’am ayat 65.

 

Dari redaksi “Syiah” yang digunakan dalam al-Quran, secara aksiomatis bisa disimpulkan bahwa tidak ada satupun ayat yang memberikan legitimasi dan justifikasi untuk satu orientasi keagamaan dan politik. Hanya saja, beberapa sarjana Syiah, karena berangkat dari pendekatan esoteris dalam menginterpretasi al-Quran, menafsirkan terminologi Syiah dalam al-Quran sebagai ayat yang melegitimasi paham keagamaan mereka. Dalam Bashâiru al-Darajât (1983: 93) misalnya al-Shaffar (w. 290 H) menyatakan bahwa makna ayat “wa inna min syî’atihi la Ibrâhima” (dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya), adalah bahwa Allah telah mengambil janji setia dari nabi Ibrahim dan dari nabi-nabi lainnya atas kepemimpinan Ali. Sementara, dalam penafsiran sarjana-sarjana Suni, ayat tersebut sesungguhnya merujuk kepada kisah nabi Nuh, seperti terlihat dalam konteks (siyâq) ayat. Sehingga makna yang tepat dari ayat tersebut adalah “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)”.

 

Secara terminologis, ada beragam definisi mengenai Syiah. Al-Nawbakhti dalam Firaq al-Syî’ah (1992: 28, al-Qaffariy, tth: 40) mendefinisikan Syiah sebagai sebuah faksi (firqah) pada periode nabi yang meyakini kepemimpinan Ali. Al-Mufid (w. 413 H), sarjana Syiah pada periode Buwaihiyiah, dalam Awâilu al-Maqâlat (1993: 38) mendefinisikan Syiah sebagai pengikut setia Ali dan keluarganya yang meyakini secara teologis bahwa kepemimpinan pasca Rasulullah jatuh kepada beliau serta menegasikan kepemimpinan tiga orang yang mendahuluinya sebagai khalifah.

 

Dari kalangan sarjana Suni, Abu Hasan al-Asyari (330 H) seorang teolog pendiri aliran Asyariah, mendefinisikan Syiah sebagai pengikut setia Ali yang melebihkannya dari sahabat-sahabat nabi lainnya (1990: 65, al-Qaffariy, tth: 49). Dalam definisi Ibnu Hazm (w. 456 H), seorang pakar perbandingan agama dan aliran-aliran Islam dari Andalusia, Syiah dinyatakan sebagai “orang yang berkeyakinan bahwa Ali adalah orang yang paling mulia setelah Rasulullah Saw., dan sahabatnya yang paling berhak menerima estafeta Imâmah beserta keturunannya” (1996: 270).

 

Mengenai definisi Syiah, tampaknya catatan Muhammad Imarah, seorang sarjana Mesir kontemporer, penting untuk diperhatikan di sini. Menurutnya, sikap melebihkan (tafdhîl) Ali dalam hal kepemimpinan tidaklah secara otomatis membuat seorang menjadi include dalam terminologi Syiah. Sebab, dalam sejarah kita mengenal beberapa orang sahabat nabi yang lebih mendukung Ali sebagai suksesor nabi pasca wafatnya beliau. Sahabat tersebut diantaranya adalah Miqdad bin Aswad (w. 37 H), Salman al-Farisi (w. 35 H) dan Abu Dzar al-Ghifari (32 H) (Imarah, 1997: 200-4). Dalam sejarah sekte-sekte Islam, Muktazilah Bashrah juga merupakan satu aliran yang memegang keyakinan mengenai hak Ali untuk menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin. Singkatnya, untuk mendefinisikan Syiah secara komprehensif dan preventif (al-jâmi wa al-mâni), maka kita perlu melibatkan telaah mengenai evolusi doktrin-doktrin Syiah. Sebab, Syiah bukanlah satu sekte atau gerakan keagamaan yang lahir dalam bentuk yang langsung mapan (established), seperti sekarang ini kita saksikan. Melainkan melalui perubahan-perubahan yang terjadi secara gradual.

 

Syiah adalah gerakan keagamaan yang meyakini adanya konsep imâmah ilâhiyyah (kepemimpinan sakral) yang diberikan oleh Allah kepada Imam Ali melalui dekrit (nash), bukan melalui eleksi atau pemilihan (al-ikhtiyâr), dan diteruskan kepada keturunan beliau melalui prosedur mandat (al-washiyyah). Definisi ini menggarisbawahi pentingnya konsep imâmah ilâhiyyah, al-nash, penolakan konsep al-ikhtiyâr dan konsep al-washiyyah untuk membedakan Syiah dari pemikiran dan gerakan keagamaan lainnya. Tiga konsep ini sendiri lahir bukan pada periode Rasulullah atau pada periode sahabat, melainkan pada periode imam Syiah keenam, Jakfar al-Shadiq (w. 148 H).

 

Konsep-konsep tersebut juga sesungguhnya tidak muncul dari imam Jakfar al-Shadiq sendiri, melainkan dari seorang mutakallim bernama Hisyam bin Hakam (w. 190 H) (Katib, 2008: 52, Imarah, 1997: 204, Kohlberg, 1976: 521). Dengan demikian, tulisan ini menolak definisi yang menyebutkan bahwa tasyayyu’ atau Syiah telah muncul sejak periode Rasulullah Saw. (al-Ghita, 1990: 29-33), atau sejak perdebatan para sahabat di balai pertemuan Bani Saidah seputar suksesi kepemimpinan pasca Rasulullah, atau sejak perang Shifin antara Ali dan Muawiyah (Fuad, 2007: 414-9) dan atau sejak kemunculan tokoh Yahudi bernama Abdullah bin Saba (Zahir, 1995: 48).

 

Perkembangan yang terjadi dalam sejarah Syiah pada abad ketiga kemudian mengubah aliran ini untuk meyakini teologi mengenai dua belas Imam (Itsnâ Asyariah). Dua belas imam tersebut diyakini jatuh pada Ali, Hasan, Husain dan keturunan Ali dari Husain (inhishâru al-imâmah fi dzurriyah Husain). Selain itu, pasca Hasan dan Husain, Imâmah tidak boleh lagi jatuh dari seorang imam kepada saudaranya, melainkan harus secara vertikal kepada putranya (al-warâtsah al-umûdiyyah) (Katib, 2008: 70-2). Perubahan inilah yang kemudian menyebabkan aliran ini disebut juga sebagai Syiah Itsna Asyariah.

 

Terminologi Itsna Asyariah sesungguhnya baru muncul pada abad keempat, melalui seorang sejarawan Syiah bernama al-Mas’udi (w. 394 H) dalam karyanya al-Tanbîh wa al-Isyrâf (al-Qaffariy, tt: 103). Sebelum abad keempat, belum ditemukan terminologi Itsna Asyariah dalam literatur-literatur Islam, baik literatur Suni maupun literatur Syiah. Dalam kitab Maqâlat al-Islâmiyyin karya Abu Hasan al-Asyari (w. 330), istilah yang digunakan hanyalah Syîah Râfidhah. Dalam karya sarjana Syiah sendiri, Hasan bin Musa al-Nawbakhti (w. 310), Firaq al-Syîah, istilah Itsna Asyariah juga belum ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa konsep dua belas imam adalah konsep yang muncul belakangan.

 

Selain memiliki nama Syiah Itsna Asyariah, sekte ini juga dikenal dengan tiga nama lainnya, yaitu Syiah Rafidhah, Syiah Imamiyyah dan Syiah Ja’fariyyah. Julukan Rafidhah diberikan dengan orientasi peyoratif (Kohlberg, 1979: 677). Umumnya istilah ini digunakan oleh sarjana-sarjana Suni, seperti al-Asyari dalam Maqâlatu al-Islâmiyyin (1990: 90) dan Ibnu Hazm dalam al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwâ wa al-Nihal (tth: 35). Menurut al-Asyari sekte ini dinamakan sebagai “Rafidhah” (secara bahasa artinya penolak) karena mereka menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar setelah Rasulullah. Konsensus di kalangan Syiah menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib lah yang semestinya menjadi pengganti Rasulullah. Dengan demikian, para sahabat yang meninggalkan pesan nabi untuk mengangkat Ali adalah orang-orang yang sesat (Asyari, 1990: 88).

 

Ibnu Taimiyyah berbeda pendapat dalam hal ini. Menurutnya (1986, II: 50) sekte ini disebut sebagai “Rafidhah” karena mereka menolak kepemimpinan Zaid bin Ali, saudara kandung Jakfar al-Sadiq atau putra Imam kelima Al-Baqir, untuk mengangkat senjata dan melalukan revolusi pada periode khalifah Umawiyah Hisyam bin Abdul Malik. Pendapat lainnya menyatakan bahwa sekte ini dinamakan “Rafidhah” karena menolak aliran Kaisaniyyah yang mendukung Imâmah (kepemimpinan) putra Ali lain yang bernama Muhammad bin Hanafiah.

 

Nama selanjutnya adalah Syiah Imamiyah. Nama ini awalnya diatribusikan untuk seluruh sekte Syiah yang meyakini konsep imâmah ilahiyyah. Syiah Kaisaniyyah, Syiah Ismailiyyah dan Syiah Zaidiyyah juga awalnya termasuk ke dalam kategori Imamiyyah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, istilah ini menyempit dan kemudian digunakan secara khusus untuk menunjukkan kelompok Syiah Itsna Asyariah (Kohlberg, 1976: 521). Tokoh Syiah pertama yang menyempitkan makna imâmiyah tersebut adalah al-Mufid dalam Awâilul al-Maqâlat (al-Qaffari, tth: 100).

 

Sedangkan munculnya nama “Ja’fariyah” karena dinisbahkan kepada salah seorang imam Syiah sendiri, yaitu Imam Jakfar al-Shadiq. Dalam istilah perbandingan hukum Islam, istilah ini mengacu kepada mazhab fikih yang dianut oleh Syiah Itsna Asyariah. Namun selain itu, dalam sejarah Syiah, istilah Ja’fariyyah pernah pula muncul untuk menunjukkan sebuah aliran yang menjadi pengikut setia Jakfar bin Ali atau saudara imam kesebelas, Hasan al-Askari. Jakfar mengklaim bahwa pasca wafat saudaranya, Imâmah jatuh kepada dirinya. Namun, klaim itu ditolak karena pengikut Syiah sepakat bahwa pasca Hasan dan Husain tidak ada lagi perpindahan Imâmah dari seorang imam kepada saudaranya (lâ imâmata fi al-akhawain illâ al-Hasan wa al-Husain) (Syahrastani, 2002: 21). Pengikut Syiah kemudian lebih memilih untuk membenarkan konsep lahirnya imam kedua belas yang kemudian bersembunyi (ghaybah). Aliran Ja’fariyyah ini tidak bertahan lama sehingga kemudian musnah.